Sedikit Ceritaku

Judul: Kesempatan Kedua

Penulis: Nurul Indah Syah

Jumlah Kata: 1.231 Kata


        Langit banyak menyimpan cerita, namun mereka diam. Langit tak pernah berdusta, mereka apa adanya. Hujan, panas, mendung itu hanya sebagian ungkapan dari langit bahwa mereka ada di antara kita, mereka penting bagi kehidupan kita.

        Pagi yang cerah itu aku termenung di depan gedung jurusanku menatap langit yang memancarkan cahaya matahari cukup tajam, tidak seperti hatiku yang sedang redup. Eits, redupnya hatiku karena praktikum salah satu mata kuliah yang tak kunjung selesai, padahal sudah kukerahkan semua waktu, tenaga, dan pikiranku siang malam.

        Waktu sudah menunjukkan  untuk memasuki kelas berikutnya. Seperti biasa, aku mencari tempat duduk yang strategis, agar apa? Yap, agar aku bisa tidur, hehe... Tapi sialnya aku lupa bahwa sekarang adalah mata kuliah yang dosennya terkenal killer. Akhirnya kuurungkan niatku untuk tidur. Sejujurnya aku sangat ngantuk karena hampir semalaman menatap layar terpaku untuk menyelesaikan praktikum.

        Terdengar pelan suara dosen mulai menjelaskan materi yang ada pada power point. Sembari mencatat dengan tangan kananku, tangan kiriku ikut berpartisipasi pada handphone dengan berselancar di sosial media melihat akivitas selebgram yang sedang berlibur di penjuru dunia. Membuatku sedikit terhanyut membayangkan betapa indahnya jikalau aku melihatnya langsung dengan kedua mataku. Namun lamunanku terpecah karena tiba-tiba handphoneku berdering ada pesan masuk. Ah, sial aku lupa mengheningkan pemberitahuan jika ada pesan atau panggilan masuk. Aku merasa ada lirikan tajam dari depan kelas. Pesan itu kuabaikan dan kuhentikan aktivitas pada tangan kiriku.

        Tiga jam berlalu, waktu yang sangat-sangat panjang bagiku dan teman sekelasku. Organ di perutku memberikan isyarat bahwa sudah waktunya aku mengirim sesuatu ke dalam sana untuk dicerna. Aku dan temanku memutuskan makan disalah satu kantin favorit kami dan cukup terkenal dikalangan jurusan bahkan kampus, yaitu kantin Uni. Disana ada pohon ceri yang rindang membuat kami semakin nyaman menikmati makanan yang kami santap. Dinginnya es teh melewati kerongkongan membuat seluruh organ dalam tubuhku terasa hidup kembali termasuk otakku. Aku pun teringat pesan masuk yang kuabaikan saat di kelas tadi, segera ku buka handphoneku. Hmm ternyata pesan itu dari laki-laki yang membuatku sedikit termenung saat aku menatap langit pagi tadi. Dia laki-laki berambut hitam sedikit pirang karena paparan sinar matahari yang selalu mengisi hari-hariku dengan hal-hal yang penting sampai yang tidak penting tetapi menyenangkan, sangat-sangat menenangkan. Dia si pemilik iris mata coklat sedikit gelap. Kulitnya putih seputih tulang. Hidungnya imut seimut marmut. Bibirnya ... biar aku saja yang tahu seperti apa, hehe. Dia adalah laki-laki yang jaketnya sering kupakai saat menembus rintik hujan. Ah, bakal lebih panjang lagi kalau kudeskripsikan dia seperti apa. Intinya dia adalah sosok yang saat ini memenuhi ruang di hatiku.

        Dengan sedikit senang juga sedikit kesal kubuka pesan itu. Sudah bisa kutebak isi pesannya, dia pasti menanyakan keberadaanku saat ini. Aku sedikit senang karena mendapatkan pesan darinya di waktu yang bersamaan aku kesal karena dia seolah memberiku harapan namun aku yakin saat itu bukan aku saja yang mendapatkan pesan itu darinya. Kubalas pesan itu dengan singkat, padat, dan jelas, “Makan di kantin.” Ya, kami tidak sedang menjalin hubungan, kami hanya partner kampus semacam simbiosis mutualisme. Tapi salahkan jika aku menyukainya lebih dari sekedar partner? Jelas tidak, karena aku yakin dia pun sebenarnya menyukaiku.

        Keseharianku berjalan seperti biasanya, terkadang kujalani dengan mandiri, terkadang berdua dengan laki-laki itu, tapi lebih sering kuhabiskan bersama teman-temanku. Waktu sudah berjalan cukup lama kurang lebih dua tahun berjalan, namun semuanya masih abu-abu antara aku dan dia. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan membuka hatiku untuk laki-laki lain. Dia tetap seperti biasa seolah memberiku harapan dengan perhatian-perhatian kecilnya tapi tak kuhiraukan. Tapi tak kusangka dia melakukan suatu hal yang sangat konyol saat dia mengetahui aku sedang dekat dengan laki-laki lain. Sungguh seperti cerita di FTV saja dia menemui laki-laki yang sedang dekat denganku dan menegaskan agar menjauh dariku. Egois bukan? Karena kejadian itu aku sangat marah bahkan benci padanya. Aku semakin menjauhinya dan tidak menghiraukan semua alasan dan pengakuannya saat itu.

        Pagi itu suara hujan membuatku terbangun dari tidur nyenyakku. Hujan cantik sekali, seolah ada banyak bidadari yang sedang menyirami tamannya di bumi yang gersang ini, lebih gersang dari hari-hariku semenjak kuputuskan untuk tidak dekat dengan siapapun laki-laki di luar sana. Sampai suatu ketika aku mendengar cerita tentang dia, laki-laki yang membuatku marah sebelumnya. Dia masih mengharapkanku? Aku tidak tahu harus menanggapinya dengan senang hati atau kesal, karena saat itu aku pergi tanpa mendengarkan penjelasannya.  Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusan, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepala. Namun kenyataannya aku masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana.

        Sampai datang hari dimana dia akan diwisuda. Kuputuskan untuk memberikannya kado dan kartu ucapan, namun dia mengharapkan lebih. Dia menghubungiku dan memintaku untuk hadir saat acara wisuda berlangsung. Aku menghembuskan napas panjang berkali-kali untuk menjernihkan pikiranku yang sedang nano-nano. Terbesit dalam benakku bahwa aku dengannya belum selesai sampai halaman terakhir.

          “Masa lalu yang tidak terselesaikan akan selalu menemukanmu lagi, entah itu cinta atau kebencian.”

Kuputuskan untuk menghadiri perayaan kelulusannya. Aku yakin saat itulah aku akan menemukan semua jawaban dari pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku, sampai sempat mengganggu tidur nyenyakku.

        Hari itu cuaca cukup cerah, mentari memancarkan cahayanya tanpa malu-malu. Sepertinya semesta merestuiku untuk pergi menemuinya. Aku mengenakan gaun nan anggun dan sedikit bersolek. Sesampainya disana kepanikan menyergapku.

        “Indah!!” suara yang tidak asing bagiku.

Puluhan pasang mata langsung terarah padaku saat dia menyapaku yang sedang kebingungan mencarinya. Bodohnya aku yang sedikitpun tidak terlintas dalam benakku bahwa ini merupakan momen sakral yang dimana pasti keluarga inti sampai keluarga besar pun menghadirinya. Semua kejadian hari ini diluar dugaanku, yang kupikir aku hanya akan menyapanya dan orangtuanya ternyata saat itu aku dikenalkan dengan keluarga besarnya sebagai seseorang yang dia sayangi. Saat ibunya melihatku beliau spontan memelukku seolah kami sudah akrab dan saling merindu satu sama lain, padahal itu pertemuan pertama kami. Saat kami berbincang pun tidak pernah kehabisan topik obrolan. Tidak terlewat adalah momen pengambilan foto keluarga. Aku sedikit salah tingkah saat aku diajak foto bersama keluarganya karena ini pasti akan dipajang dalam album foto ataupun di dinding rumahnya. Kulirik wajahnya sesekali, tersirat senyuman bahagia disana. Saat itu akupun ikut merasakan bahagia.

      Detik itu aku bulatkan keputusanku untuk memberikan kesempatan padanya, karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi dibalik kesempatan itu.

        Dia tersenyum. “Makasih ya, sudah mau datang dan kumpul bareng keluargaku.” Akupun sangat senang menjadi salah satu tamu yang istimewa dan bisa ikut merayakan momen sakral tersebut. Ow, ada getar aneh di hatiku. Saat itu aku tersadar hatiku masih berpihak dan akan terus berpihak kepadanya.

         Waktu terus berjalan, kami melalui banyak sekali proses pendewasaan dalam hubungan ini. Tepat pada bulan Juli ini tiga tahun sudah kenangan itu berlalu dan akan menjadi salah satu kenangan indah dalam hidupku. Saat ini dia sedang berusaha mempersiapkan segala hal untuk mempersuntingku. Selalu ku do’akan yang terbaik untuk kami.

        Terimakasih sudah membuat hatiku yakin seutuhnya, terimakasih untuk segala rasa dan warna yang kau berikan, terimakasih untuk semua perjuangan yang kau kerahkan agar bisa mencapai titik ini. Aku mencintaimu Mr. Rainy Man ...

            Sweetheart, play me a rhythm

            Like you do to my beating flesh

            I can see the cloud’s crying over

            The pretty man that is you..

Terdengar lantunan lagu Mr. Rainy Man-Paradox, yang sangat merdu dalam earphoneku. Mendengar lagu ini aku seperti sedang kasmaran saja, hehe... tapi aku sangat menyukainya. Akhirnya aku menemukan jawaban itu, dan semua terjawab di waktu yang sudah ditentukan Tuhan Yang Maha Esa.

Biografi Penulis

         Indah merupakan gadis semata wayang kelahiran Sukoharjo, 6 November 1996. Disela-sela waktu senggangnya, terkadang ia manfaatkan untuk menulis cerita yang ia alami di hari itu ataupun cerita fiksi tentang apa yang dilihat dari sekitar dan dari mimpinya. Indah si penyuka coklat dan pisang ini masih belajar dalam soal menulis sebuah cerita agar menjadi tulisan yang indah dibaca oleh teman-teman. Di samping itu, Indah memiliki hobi menggambar, mewarnai dan menari.

_____________________________________________________


Aloooooo.....

Yeay, akhirnya selesai juga..

Ini merupakan tulisan kesekianku, tapi tulisan ini yang pertama kali ku publikasikan. 

Aku menulis ini karena mendapat tugas dari sekolah untuk menulis cerita minimal 1000 kata dan maksimal 1500 kata selama liburan.

Sempat bingung mau mengangkat cerita sendiri atau cerita fiksi.

Tapi akhirnya kuputuskan menulis cerita sendiri hihi

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca ^_^

Mohon maaf bila ada salah kata. Mohon saran dan kritik mendukungnya yaaa, karena aku bukanlah seorang penulis yang sudah pasti banyak sekali kesalahan dalam tulisanku. 

Komentar

  1. Wow,, Bagus banget ceritanya kak.. Semoga makin sukses kedepannya.. Ditunggu cerita selanjutnya :)

    BalasHapus

Posting Komentar